Menurut fitrahnya, manusia dilengkapi Tuhan dengan kecenderungan seks (libido seksualitas). Oleh karena itu, Tuhan menyediakan wadah yang legal untuk terselenggaranya penyaluran tersebut yang sesuai dengan derajat kemanusiaan. Akan tetapi, perkawinan tidaklah semata-mata dimaksudkan untuk menunaikan hasrat biologis tersebut.[1] Pernikahan merupakan perintah agama kepada yang mampu melaksanakannya, karena dengan pernikahan dapat mengurangi maksiat penglihatan, memelihara diri dari perbuatan zina dan pernikahan merupakan wadah penyaluran hubungan biologis manusia yang wajar.[2]

Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan pernikahan yang mana pernikahan tersebut bertujuan untuk membentuk keluarga bahagia, sejahtera dan kekal. Islam sangat menyadari bahwa dengan pernikahan manusia dapat memperoleh ketentraman,  kedamaian hidup serta kasih sayang yang mutlak diperlukan dalam kehidupan pribadi dan keluarga.

Sebagaimana Firman Allah:

ومن ايته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة قلي ان في ذلك لايت لقوم يتفكرون[3]

Oleh karena itu, dengan adanya pernikahan diharapkan tercipta rumah tangga bahagia, penuh cinta kasih, toleransi, tenggang rasa, tentram, damai dan tenang untuk selama-lamanya. Ini menunjukkan bahwa langgengnya kehidupan pernikahan merupakan suatu tujuan yang sangat diinginkan oleh Islam. Pernikahan hendaknya dibina untuk selama-lamanya, agar suami istri bersama-sama dapat mewujudkan rumah tangga tempat berlindung, menikmati naungan kasih sayang, sehingga anak dapat terpelihara pertumbuhannya dengan baik.

Sebagaimana diisyaratkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan Pasal 1 bahwa:

“Perkawinan adalah merupakan suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”.[4]

Tujuan pernikahan dalam Islam bukan semata-mata untuk kesenangan lahiriyah, melainkan juga untuk membentuk suatu lembaga yang dengannya kaum pria dan wanita dapat memelihara diri dari kesesatan dan perbuatan yang tidak senonoh, melahirkan dan merawat anak untuk melanjutkan keturunan manusia serta memenuhi kebutuhan seksual yang wajar dan diperlukan untuk menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan.[5]

Tujuan selanjutnya adalah ;

Tujuan Reproduksi sebagaimana disebutkan dalam al-Syura (42):21, dan an-Nahl (16):72 ;

فاطر السماوات والأرض جعل لكم من أنفسكم أزواجا ومن الأنعام أزواجا يذرؤكم فيه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

)”Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

والله جعل لكم من أنفسكم أزواجا وجعل لكم من أزواجكم بنين وحفدة ورزقكم من الطيبات أفبالباطل يؤمنون وبنعمت الله هم يكفرون

“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?”


[1] H. Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam untuk IAIN, STAIN, PTAIS, cet. ke-1 (Bandung :  Pustaka Setia, 2000), hlm. 15.

[2] Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-2 (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 70.

[3] Al-Rum (30): 21.

[4] Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama dalam Sistem Hukum Nasional, cet. ke-2 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 140.

[5] Abdur Rahman, I. Doi, Perkawinan dalam Syariat Islam, alih bahasa H. Basri Iba Ashghari dan  Wadi Musturi, cet. ke-2 (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hlm. 7.