Guru BK mempunyai peran yang sangat besar di dalam penanganan ketidak patuhan siswa. Diantara peran guru BK tersebut diantaranya adalah:

  1. Pemahaman, Guru BK berusaha untuk memahami siswa berkaitan dengan perilaku, kenapa, mengapa, termasuk juga bagaimana untuk bias mengerti latar belakang dari tindakan siswa.
  2. Pencegahan, Guru BK berusaha untuk mencegah perilaku siswa yang tidak patuh terhadap gurunya.
  3. Pengentasan, Guru BK berusaha untuk merubah perilaku siswa yang tidak patuh terhadap guru, agar kemudian bias merubah sikapnya untuk lebih patuh terhadap guru.
  4. Pemeliharaan dan pengembangan

Dalam hal ini guru BK harus mampu membina dan menjaga suasana yang telah ada agar tetap dan bahkan bias lebih meningkat. Sehingga ketidak patuhan siswa terhadap guru dapat ditangani dengan baik.

Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, dengan kemampuan sosial yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi, dan keimanan serta ketaqwaan yang dalam. Tingkat ketidak patuhan siswa kepada guru maupun orang tuanya di rumah merupakan gejala kurang berkembangnya dimensi sosial dan kesusilaan siswa.[1]

Sehingga dari sinilah guru BK mempunyai peranan yang cukup besar kepada peserta didik.Peranan guru BK sebagai motivator sangatlah penting dalam rangka meningkatkan  kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi (Sardiman, 2001: 143). Dikatakan pula oleh Prayitno (1995: 28), bahwa layanan informasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). Sehingga dapat dikatakan bahwa layanan informasi bidang bimbingan pribadi merupakan layanan yang diberikan dalam bentuk pemberitahuan, penerangan sebagai arahan kepada diri pribadi seseorang agar menjadi lebih baik.

Sedangkan tugas guru pembimbing di sekolah, di antaranya :

  1. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa.
  2. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar bimbingan dan konseling, maka guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai guru pembimbing. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mecapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya setara D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling.
  3. Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling dapat diselenggarakan di dalam atau di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan bimbingan dan konseling di luar sekolah sebanyak-banyaknya 50% dari keseluruhan kegiatan bimbingan untuk seluruh siswa di sekolah itu, atas persetujuan kepala sekolah.[2]


[1] Prayitno & Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 25-26.

[2] Prayitno, Buku Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. (Padang: P4T IKIP Padang, 2001), 11.