Pada dasarnya bacaan Gharib riwayat Hafs Imam ‘Ashim mengikuti periwayatannya tulisan Rasm Usmani sehingga jumlahnya banyak tetapi kali ini akan dibicarakan sebagian dari gharib yang ada, diantaranya :

Bacaan dalam rangka penampakan harakat ( اظهار الحركة )

            Di dalam aturan bahasa arab bila suatu huruf berharakat kemudian disukun, maka boleh ditampakkan kembali dengan menggunakan tiga cara, yaitu Isymam ( اشمام ), Rum ( روم ) dan Ziyadatul Alif ( ويادة الا لف ). Penyusunan itu bisa terjadi karena waqof atau mungkin karena idghom. Bila yang disukunkan itu berasal dari harakat dlammah, maka car menampakkan harakat menggunakan Ziyadatul Alif ( menambah huruf Alif ).

            Bacaan gharib riwayat Hafs yang menggunakan penampakan huruf ada dua,  yaitu :

A.  Penampakan harakat fathah, hal ini terjadi pada :

  1. Kata Ana ( أنا ) dan Laakinna ( لكن )surat Al Kahfi ayat 34. Huruf alif yang pada akhir kedua kata itu merupakan huruf tambahan dalam rangka penampakan harakat fathah ketika waqof, dan tidak berlaku ketika washol, sebab ketika washol tidak membutuhkan alif.
  2. Kata Adhdhunuuna ( الظنونا ) pada surat  Al Ahzab ayat 10, kata Ar Rosuula      ( الرسولا ) pada surat Al Ahzab ayat 66, serta As Sabiila ( السبيل ) pada surat Al Ahzab ayat 76 dan kata Qowaariiro ( قوارير ) pada surat Al Insan ayat 15menggunakan penampakan harakat fathah ketika waqof dalam rangka keseimbangan bunyi pada setiap akhir ayat sebelum dan sesudahnya. Sehingga waqof  masin – masing kata tersebut akandiakhiri bunyi huruf alif sementara ketika washol tidak membuthkan tambahan huruf alif, karena dengan adanya washol itu harakat fathah akan tampak dengan sendirinya. Adapun kata Salaasila ( سلاسلا ) Al Insan ayat 4, ketika diwaqofkan juga mengalami penampakan harakat fathah dengan cara menambah huruf alif akan tetapi penambahan huruf alif ini dalam rangka penyesuaiannya dengan ketetapan penuliusan Rasm Usmani. Dan kalau huruf alifnya itu dianggap sebagai tanda tanwin tidak mungkin terjadi sebab kata salaasila ikut wazan fawaa’ila ( فواعل ) yang Ghoiru Munshorif tidak boleh bertanwin seperti halnya kata Masaajida ( مساجد ) dan kata Salaasila bisa diwasholkan tidak membutuhkan alif.

B.  Penampakan harakat dlommah, hal ini terjadi pada :

  1.  Kata Laata’mannaa ( لا تأمنا ) kata ini berasal dari kata Laata’manunaa ( لاتأمننا ) kemudian huruf nun pertama di idghomkan ( dimasukkan ) pada huruf nun kedua, sehingga huruf nun pertama yang berharakat dlommah ini harus disukunkan karena idghom lalu, agar harakat dlommah itu tampak maka dibaca secara Isymam ( اشمام ) sementara Isymam itu sendiri memiliki definisi ( الاشارة الى ضم بعد لبسكون ) : artinya mengisyaratkan harakat dlommah sebentar setelah sukun. mUntuk lebih jelasnya wajib dilakukan Musyafahah
  2. Pemberian harakat kasroh dalam rangka pertemuan dua sukun yang disebut dengan istilah Iltiqous Sakinaini ( التقاء السكنين ) pada dasarnya setiap terjadi pertemuan dua sukun, maka huruf pertama harus diberi harakat kasroh, seperti pada kata Manihtadaa ( من اهتدى ) berasal dari kata من dan اهتدى Sehingga terjadi pertemuan sukun pada huruf nun dan sukun pada huruf ha’ kemudian dikasroh huruf nunnya disamping itu pula terjadi pada Bi’sal Ismu ( بئس الاسم ) pada kata ini terdapat huruf lam sukun dan huruf sin sukun yang masing – masing didahului oleh huruf hamzah washol itu tidak dibaca, maka terjadilah pertemuan dua huruf sukun yaitu huruf lam dan huruf sin karena huruf yang pertama adalah huruf lam maka huruf inilah diberi harakat kasroh.
  3. Perubahan huruf hamzah ( تغير الهمزة ). Huruf hamzah ( ء ) bisa berubah menjadi huruf lain bahkan bisa dibuang, hal ini berlaku pada bacaan Al Qur’an. Hanya saja perubahan huruf hamzah yang terjadi pada bacaan riwayat Hafs hanya pada kata A’ajamiy ( ءاعجمى ). Pada mulanya kata tersebut diawali oleh dua huruf hamzah yang berjajar dan masing – masing berharakat fathah, kemudian huruf hamzah yang kedua dirubah menjadi huruf yang berbunyi antara huruf hamzah dan huruf alif pada mad yang selanjutnya disebut yang selanjutnya disebut tashil ( تسهيل ) yang artinya memudahkan. Memang alasan perubahan huruf hamzah disini dalam rangka memudahkan bunyi huruf hamzah yang berjajar.
  4. Perubahan huruf Shod ( صاد ) menjadi Sin ( سين ).Pada kata Yabshuthu ( يبصط ) dan Bashthoh ( بصطة ) surat Al Baqoroh 245 dan Al A’rof 69 terjadi perubahan pada huruf shod yang ada menjadi huruf sin. Perubahan ini dilihat dari periwayatan semata, sebab dari arti sisi sama. Disamping itu sama – sama terpakai dari sisi penggunaan bahasanya sementara dari kata Al Mushoithiruun ( المصيطرون ) surat Ath Thur 38 boleh memilih antara menggunakan huruf shod atau sin.
  5. Huruf Ha’ saktah ( هاء السكتة ) pada kata  Maaliyah Halaka ( ماليه هلك ) surat  Al Haqqoh ayat 28 – 29. Para Ulama’ Qurro’ yang menetapkan Ha’ saktah pada kata ini mengecualikan kaidah umum yang menyatakan bahwa setiap huruf Mutamatsilain ( متماثلين ) dimana huruf pertamanya sukun harus diidghomkan pada huruf yang kedua. Dalam hal ini para Ulama’ Qurro’ memberikan dua ketentuan yang dapat dipilih yaitu idghom atau idhar yang disertai adanya Saktah Lathifah ( سكتة لطيفة ) artinya berhenti sejenak dan tentunya untuk lebih jelasnya harus melakukan Musyafahah kepada yang ahli.