Anak-anak kota rata-rata memiliki mental yang superior dibandingkan dengan anak-anak desa.

Kalau ditilik dari sudut sosiologi, pertumbuhan dan perkembangan desa dan kota tentu berbeda. Umumnya, di daerah pedesaan dinamika masyarakat bersifat statis. Anak-anak lahir dalam keluarga, sementara lahan untuk mata pencaharian tidak pernah bertambah. Ladang dibentuk dari hutan, semakin jauh ke dalam, hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Tetapi hal itu pun tidak menolong banyak. Akibatnya, hutan semakin berkurang dan bencana alam pun turut merusak “alam” yang dijajah manusia dan menuntut “balas” kepada manusia yang merusak lingkungan.
Di perkotaan, tumbuh sangat pesat industry, sekolah, dan semua kebutuhan manusia. Dengan begitu, anak kota akan mendapatkan sekolah yang lebih layak daripada di desa. Karena banyak sekolah di desa sedikit sekali fasilitasnya yang berfungsi untuk mengembangkan mental, potensi dan jiwa anak. Anak yang bersekolah akan memiliki mental yang superior dibandingkan yang tidak bersekolah atau bersekolah tetapi fasilitas tidak menunjang. Sekolah yang ada di kota lebih maju daripada di desa, sehingga mental anak di desa lebih rendah daripada anak kota. Karena proses belajar juga menentukan mental anak. Bukan hanya dari lingkungan sekolah, tapi status ekonomi keluarga juga menjadi factor penghambat mental anak. Banyak keluarga di desa yang tidak mementingkan perkenbangan potensi anak. Sehingga orang tua tidak mementingkan pendidikan pada anaknya.
Minat dan sikap individu terhadap sekolah dan mata pelajaran tertentu, kebiasaan-kebiasaan kerja sama, kecakapan atau kemauan untuk berkonsentrasi pada bahan-bahan pelajaran dan kebiasaan belajar semuanya merupakan factor perbedaan di antara anak satu dengan anak lainnya. Factor tersebut kadang-kadang berkembang akibat sikap anggota keluarga di rumah dan lingkungan sekitar. Latar belakang keluarga, baik dilihat dari segi sosioekonomi maupun sosiokultural adalah berbeda-beda. [1]
Studi tentang perbedaan anak-anak kota dengan anak desa:
Hal ini ditunjukkan dari hasil sebuah penelitian bahwa kemampuan mental atau umur mental, bagi anak-anak kelas satu sekolah dasar ditemukan dalam rentangan umur kronologis antara 3 tahun-8 tahun. Hal ini berarti bahwa meskipun umur kronologis telah mencapai 8 tahun (yang secara normal anak ini seharusnya telah duduk di kelas dua atau tiga sekolah dasar) tetapi kemampuan belajarnya masih sama dengan mereka yang duduk di kelas satu. Hal ini menggambarkan produk keluarga yang amat kurang, yang mungkin sekali ekspresi bahasa dan kehidupan keluarga tersebut kurang baik.[2]
Kehidupan keluarga tersebut mengacu pada sosioekonomi maupun sosiokultural, yang mana antara anak kota dan anak desa factor tersebut sangat berbeda.. anak kota mengemban pendidikan banyak dimulai ketika TK, bahkan ada yang PG (Play Group). Sedangkan anak desa mayoritas pendidikan dimulai dari SD. Jadi, dilihat dari pendidikan, anak kota lebih unggul/ mentalnya lebih superior daripada anak desa.

[1] Sunarto, Perkembangan Peserta Didik. 1995.Jakarta: Rineka Cipta. Hlm 15
[2] Ibid. Hlm 17